Home

About Us

Home News 


Featured

7 Kriteria dalam Memilih Pasangan Hidup yang Tepat

Posted at 01 December 2009

Apa saja yang dapat membuat suatu hubungan berjalan baik? Apa yang harus kita perhatikan dalam memilih pasangan hidup? Bagaimana kita mengetahui bahwa si dia  adalah orang yang tepat untuk dinikahi? Anda mungkin pernah mengalami hubungan yang buruk di masa lalu; jadi kriteria apa saja yang perlu Anda temukan dalam diri si dia agar Anda tidak terjebak dalam kesalahan yang sama dan terluka lagi?

Kriteria yang umumnya dicari adalah: “Seorang yang memiliki rasa humor dan dapat membuat kita tertawa.”  “Seorang yang bertubuh atletis dan rajin berolah raga.” “Seorang yang menyukai traveling, shopping dan menonton pertunjukan musik.”

Itulah sebabnya mengapa kita terperangkap ke dalam berbagai masalah.  Ketika bicara mengenai seseorang yang humoris, tegap, ramah, tenang dsb., kita sedang mengacu pada kepribadiannya bukan karakternya.

            Seorang pembunuh berantai bisa memiliki kepribadian yang menyenangkan dengan rasa humor yang tinggi. Seorang pemerkosa pun bisa memiliki tubuh yang atletis dan suka berolah raga. Seorang psikopat bisa memiliki kepribadian yang ramah dan sangat tenang. Dan seorang pelacur bisa saja menyukai traveling, shopping dan menonton pertunjukan musik.  Apakah ini berarti Anda menyukai seorang pembunuh, pemerkosa, psikopat dan pelacur?  Tentu tidak! Akan tetapi jika Anda tidak bersedia mengubah kriteriamu dalam hal ini, maka pada akhirnya Anda akan selalu jatuh ke tangan orang yang salah.

            Kunci untuk memilih pasangan hidup yang tepat adalah carilah seseorang yang berkarakter baik, bukan kepribadiannya saja yang baik. Sewbab karakter akan menentukan cara ia  memperlakukan dirinya, Anda dan anak-anakmu suatu hari kelak.  Karakter adalah dasar dari setiap hubungan yang sehat. Hubungan itu seperti kue Tart, dimana karakter adalah bahan dasarnya dan kepribadian adalah lapisan gulanya.   

            Ketika Anda sedang menimbang apakah si dia cocok untuk dijadikan pasangan hidup? Daripada bertanya: “Apakah dia mencintaiku?” Lebih baik Anda bertanya, “Seberapa mampukah  si dia mencintaimu?”  Jika si dia adalah seorang pemarah, jelas dia tidak memiliki kapasitas untuk mencintai Anda. Jika si dia belum dipulihkan dari  luka bathin masa lalunya, si dia juga sulit mencintai Anda sepenuhnya. Jika si dia tidak bertumbuh dalam Kristus, maka si dia tidak mampu mencintai Anda dengan benar. Jika si dia tidak mampu bersikap tegas terhadap campur tangan orang tuanya, maka si dia akan mengalami kendala untuk mencintai Anda.     

            Kita akan belajar ketujuh kriteria yang harus ada dalam diri si dia. Kriteria ini adalah karakter yang baik dalam diri seseorang.

 1.    Komitmen Terhadap Pertumbuhan Pribadi

Inilah kriteria utama yang perlu ada dalam diri calon pasangan hidup kita. Jika Anda mampu menemukan seseorang yang memiliki komitmen terhadap pertumbuhan pribadinya, berarti Anda telah meraih setengah dari pernikahan yang bahagia.

            Jenis masalah apakah yang paling sering di hadapi oleh para pasangan? Yang satu mau maju yang satunya tidak mau. Yang satu coba membahas persoalan yang dihadapinya, yang satunya menolak. Yang satu melihat  celah yang memerlukan perbaikan tetapi yang satunya menyangkal.

Komitment terhadap pertumbuhan pribadi artinya:
  1. Si dia bersungguh-sungguh terhadap firman Allah dan gaya hidup yang saleh.

Si dia benar-benar yakin bahwa Alkitab adalah sumber iman satu-satunya.

Dia meyakini mutlak kekuatan Firman Allah. Dia bersedia hidup menurut apa yang diajarkan Alkitab, seperti: Kasih, Pengampunan, Penerimaan, Saling Menghormati, Kehiduapan Berkeluarga, dsb.   (1 Yoh 4:7,12).

 
  1. Si dia bersedia dibantu dan menerima bimbingan.

Bantuan itu bisa berupa buku-buku, kaset khotbah, seminar-seminar dan bila perlu konseling pribadi. Amsal 12:1 berkata, “Untuk belajar, Anda harus bersedia diajar.” Tidak ada hubungan yang langgeng apabila salah satu pasangan menolak mencari bimbingan ketika diperlukan.   

            Kriteria ini harus Anda temukan sedini mungkin dalam diri si dia.  Sebab dengan berjalannya waktu Anda akan menghadapi krisis dalam pernikahan, dan ketika Anda sadar bahwa si dia ternyata “tidak percaya terhadap konseling,” atau malas untuk belajar dari buku tentang bagaimana agar hubungan kalian  menjadi manis kembali, maka hal itu sudah terlambat.  

 
  1. Si dia harus menyadari kelemahan dan masalah emosinya.

Sungguh bahaya terlibat dengan seseorang yang tidak menyadari kelemahannya dan area yang rawan masalah. Tidak ada kebohongan yang lebih menyesatkan daripada: “Errr, saya baik-baik saja! Saya tidak bermasalah; jangan kuatir.

Yakobus 5:16 berkata, agar kita pulihkan dari segala luka yang menyakitkan, kita perlu saling mengakui kesalahan kita dan saling mendoakan. Keangkuhan dan keras kepala adalah jalan pintas menuju perpecahan.

 
  1. Si dia harus memiliki target pribadi yang real untuk berubah.

Dengan kata lain, kita dapat melihat secara spesifik perubahan positif yang terjadi pada dirinya dari waktu ke waktu. Betapa pentingnya menemukan seseorang yang bukan hanya rindu untuk bertumbuh, tetapi sungguh-sungguh melakukannya.

Seorang yang tegas, beriman, berani menghadapi ketakutannya, memperbaharui pikirannya, dan berdoa untuk perubahan. Ia tidak perlu didorong-dorong untuk bertumbuh. Karena ia sendiri menginginkannya. (1 Kor 9:26)

        Banyak sekali orang yang sekadar  basa-basi bilang mau berubah, tetapi ketika diperhadapkan pada situasi yang sesungguhnya, ia menghindar. Bagaimana Anda akan berubah dalam lima tahun mendatang? Bagian mana dari sifatmu yang harus dibuang? Karakter ilahi apakah yang Anda rindu kembangkan? Setiap kita perlu bertumbuh dalam karakter, bukan hanya karena sebagai orang Kristen, tapi juga sebagai seorang pribadi.

 

        

 2.    Keterbukaan Emosional

Hubungan yang intim tidak terjalin lewat berbagi tempat tinggal, tempat tidur, atau kamar mandi saja: tetapi dengan berbagi perasaan. Si dia harus memiliki kepekaan. Artinya si dia tahu apa yang sedang dirasakannya dan rindu berbagi perasaannya denganmu, dan tahu cara mengungkapkan perasaannya.

            Banyak pria dan wanita yang tidak berbahagia karena mereka terikat dengan pasangan yang tidak mampu mengekpresikan perasaannya.

“Ayahnya tidak pernah bilang bahwa ia mengasihinya, sehingga ia pun tidak mampu berkata bahwa ia mengasihiku.”  “Dia sangat terluka oleh mantan kekasihnya, akibatnya ia sangat sulit menunjukan perhatiannya kepadaku.”  “Tumbuh di tengah  keluarga yang melecehkan membuat dia ngeri menunjukan perasaannya.”  

            Jika semua yang dikeluhkan di atas itu benar, berarti mereka semua sedang kehilangan satu hal penting, yaitu: Jika si dia tidak mampu mengenali dan berbagi perasaannya denganmu, berarti si dia belum siap naik  ke jenjang hubungan yang lebih intim.

            Apa gunanya tinggal bersama seorang yang perasaannya tumpul? Tinggal bersama seorang yang tidak mampu berbagi perasaannya sungguh tersiksa. Amsal 18:14 berkata, “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”

            Cara lain untuk menggambarkan “Keterbukaan Emosional” adalah “Kemurahan Emosional” – seseorang yang bermurah kasih, membagikan kasihnya dengan tulus dan melimpah tanpa hambatan. Jika Anda hidup bersama seorang yang mudah menyatakan kasihnya dan memperlihatkan betapa ia menghargaimu, maksud saya bukan setahun sekali pada saat ulang tahun pernikahan saja, atau pada saat Anda mengancam akan meninggalkannya. Karena itu Anda perlu berdoa untuk mendapatkan seseorang yang mampu menunjukan kasih dan penghargaannya secara konsisten.

            Keterbukaan emosional adalah hal yang vital dalam diri si dia, karena hal itu memberikan akses kepada jiwanya,. menyediakan jalan menuju hatinya. Tanpa keterbukaan emosional, si dia tidak akan menjadi belahan jiwamu.   

 

3.    Integritas

Ini adalah konsistensi dari karakter. Tindakanmu cocok dengan perkataanmu. Pilihanmu cocok dengan visimu. Perilakukmu cocok dengan keyakinanmu.

            Agar suatu hubungan kasih dapat berjalan baik, kejujuran dan dapat dipercaya harus menjadi dasarnya.  Mengetahui bahwa si dia selalu dapat dipercaya memberi rasa aman tersendiri. Jika tidak ada saling percaya, maka tidak ada hubungan. Apabila  Anda selalu ketakutan jangan-jangan si dia membohongimu, hal itu akan membuatmu selalu was-was. Anda akan selalu curiga dan merasa dikhianati. Jika Anda meragukan integritas si dia,  maka Anda akan kehilangan respek terhadapnya. Anda tidak dapat mempercayai perkataan dan tindak-tanduknya terhadapmu.    

Oleh karena itu Anda harus menemukan seseorang yang:

a.       Jujur terhadap dirinya sendiri 

b.      Jujur terhadap orang lain

c.       Jujur terhadap Anda

 4.    Dewasa dan Bertanggung Jawab

Banyak sekali orang yang belum siap masuk dalam suatu hubungan berkomitmen. Sekalipun  mereka terlihat sangat menyenangkan, dan bahkan sangat mencintaimu, tetapi apabila si dia  belum mencapai tingkat kedewasaan tertentu, maka Anda akan merasa sedang  mengadopsi seorang anak daripada seorang kekasih.  Pada akhirnya Anda akan merasa: “Saya sangat mencintai si dia, dan saya juga berharap si dia akan bertumbuh.

      Dari mana Anda mengetahui bahwa si dia cukup dewasa untuk memasuki suatu hubungan yang berkomitmen?

  1. Si dia mampu mengurus dirinya sendiri.  Apabila si dia cukup dewasa, seharusnya ia mampu menghasilkan uang untuk membiayai hidupnya sendiri, menjaga tempat tidurnya tetap bersih, mengerti prinsip dasar kebersihan, dsb. Kebersihan jasmani adalah cerminan dari apa yang ada di dalam rohaninya. Apabila  si dia penampilannya acak-acakan, kemungkinan besar di dalamnya kacau balau. Jika si dia  tidak mampu mengurus dirinya, apa yang membuatmu berpikir bahwa dia sanggup memperhatikan kebutuhan emosimu? Yang pasti orang seperti itu belum siap untuk menikah.
  2. Bertanggung jawab.  Kedewasaan tidak diukur dari umur, tetapi diukur dari seberapa berani ia bertanggung jawab. Penuhi segala kewajibanmu. Perkataannya harus dapat dipegang – lunasi semua tagihanmu, tepati janjimu, datang tepat waktu, jangan membuat orang kecewa, dsb. Yesus berkata: “Jika ya, katakan ya! Jika tidak, tidak! Tanggung jawab bukanlah konsep yang abstrak, melainkan tindakan nyata. Setiap orang berhak dicintai, tetapi tidak setiap orang siap untuk memikul tanggung jawab yang dibutuhkan dalam suatu hubungan yang dewasa.
  3. Menunjukan rasa hormat. Satu-satunya cara kita mengenali seorang anak telah tumbuh besar adalah kemampuannya menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang disekelilingnya. Kanak-kanak tidak mengenal batas. Ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, lansung ngambek. Orang dewasa tidak bersikap buruk di tempat umum. Dari mana Anda tahu bahwa hubunganmu termasuk cukup dewasa?  Lihatlah seberapa peduli ia terhadap perasaanmu. Apakah si dia merendahkanmu di muka umum? Seberapa besar ia menaruh hormat terhadap keterbatasanmu, waktu, kepemilikan dan perasaan orang lain? 
 5.    Memiliki Citra Diri yang Sehat

Yesus berkata “kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Artinya Si dia hanya bisa mengasihimu sebesar ia mengasihi dirinya sendiri. Seorang yang citra dirinya sehat mengasihi karena ia merasa dirinya baik. Semakin sehat citra diri si dia semakin kuat hubunganmu.

          Apa cirri-ciri orang yang citra dirinya sehat?
  1.  
    1. Ia tahu siapa dirinya di dalam Kristus. Ia memiliki pengertian yang Alkitabiah tentang posisi dan otoritasnya sebagai anak Allah.
    2. Ia tidak melecehkan dirinya, melainkan merawat dirinya dengan baik.
    3. Ia tidak melecehkan dirinya, melainkan merawat dirinya dengan baik.
    4. Ia tidak membiarkan orang lain melecehkan dirinya.
    5. Bersikap proaktif (tidak pasif).
 6.    Bersikap Positif dalam Hidup ini

Ada dua jenis manusia di dunia ini: Manusia positif dan manusia negatif. Jika Anda harus menghabiskan hidupmu bersama satu di antara dua orang ini, manakah yang akan Anda pilih? Tentu yang positif bukan! Akan tetapi mengapa banyak di antara kita yang akhirnya mendapat pasangan hidup yang negatif – selalu kuatir, gelisah dan berfokus pada masalah, selalu bersungut-sungut, tidak mudah percaya dan pesimis akan masa depan.

   

            Orang yang positif menciptakan hubungan yang positif. Orang yang negatif menciptakan hubungan yang negatif. Itu sebabnya jatuh cinta dengan orang yang negatif bagaikan mendengar orang yang sedang mencakar papan tulis dengan kukunya.

            Kasih adalah positif. Ia tumbuh di dalam atmosfir yang positif. Ia tenggelam dalam atmosfir yang negatif. Hubungan jauh lebih mudah dibangun dengan orang yang positif.  Konflik akan lebih cepat diselesaikan, sedikit saling menyalahkan dan ada kerjasama yang baik karena kasih.  

             

 7.    Ada perasaan tertarik

Sekalipun ini bukan termasuk dalam kualitas karakter, namun tanpa perasaan itu Anda tidak akan pernah mengalami jatuh cinta. Mungkinkah kita memiliki pernikahan yang bahagia dengan seseorang yang kita tidak tertarik? Biasanya ada orang-orang yang bertanya demikian kepada saya karena mereka telah mengalaminya. Mereka mengasihi pasangannya tetapi tidak memiliki perasaan tertarik sama sekali. Secara jujur saya katakan: “Tidak mungkin!”  Saya tidak yakin Anda akan memiliki hubungan jangka panjang yang sehat dan romantis tanpa perasaan tertarik dengan si dia.  

            Jatuh cinta dengan seorang sahabat akan menjadi pengalaman yang luar biasa dalam hidup seseorang. Survey membuktikan bahwa pasangan yang menjalin persahabatan terlebih dahulu sebelum mereka meningkat ke hubungan yang romantis akan mengalami pernikahan yang lebih sukses dan memuaskan.                      = Pastor Kong Hee - CHC =