Home

About Us

Home News 


Featured

Menabur di Masa Sukar

Posted at 02 December 2009

Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.  Pengkhotbah 11:4

 

            Seringkali perasaan takut kekurangan cenderung membayangi iman kita di dalam TUHAN.  Melihat badai datang, kita cenderung untuk menahan benih.  Di dalam 1 Raja-raja 17, janda tersebut hampir saja mengalami kebangkrutan total karena perasaan takut ini.  Persediaan makanannya nyaris habis, sehingga ia berhenti memberi untuk TUHAN. Sekalipun menerima perintah Ilahi untuk memberi makan kepada nabi Elia, janda ini berusaha mengelak perintah itu (17:9-12). Perasaan takut kekurangan ini telah mencengkeramnya. Ketika Elia menyadari permasalahan yang dihadapi janda itu, ia pun segera menunjukan solusinya. Elia mendorong janda itu untuk memberi demi masa depannya dan bukan dari kekurangan masa lalunya. “Lalu janda itu pergi melakukan apa yang dikatakan oleh Elia; sehingga ia dan seisi rumahnya bisa makan berhari-hari. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak berkurang, seperti yang dikatakan Tuhan melalui Elia.” (17:15-16).  Dalam sekejap janda ini memngalami mukjizat kelimpahan yang luar biasa. Jadi benih yang ditaburnya tadi menghasilkan tuaian mukjizat untuk dirinya, anaknya dan Elia. Apabila Anda bersedia melakukan firman Tuhan, tak peduli apapun situasinya, maka TUHAN akan membuktikan firman-Nya.

            Dalam kitab Kejadian, kita jumpai bahwa Ishak sedang hidup di tengah masa kelaparan. Ishak juga dikuasai oleh perasaan takut kekurangan sehingga ia berencana untuk meninggalkan tanah perjanjian, yaitu gudang perbekalan TUHAN dan beralih ke Mesir, gudang perbekalan manusia. Tetapi TUHAN menampakkan diri kepada Ishak dan berkata: “Jangan turun ke Mesir; "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu” (Kej 26:2-3). Ishak pun taat. Kemudian pada ayat selanjutnya Anda akan menemukan bahwa Ishak menabur benih yang terbaik di tanah kelaparan yang tandus. Kelihatannya bodoh bagi orang yang tidak percaya. Seolah-olah Ishak sedang mensia-siakan benih yang terbaik di tanah yang tandus.  

            Namun Ishak menggunakan imannya sebagai perisai untuk menghadapi berita buruk dan saran-saran terbaik dari “orang pintar” pada masa itu. Dia berani mentaati TUHAN.  Ia sadar, bahwa jika tidak ada benih yang ditabur maka tidak ada harapan untuk menuai. “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya

(Kej 26:12-14). Sekali lagi Anda jumpai bahwa jika seseorang bersedia mentaati suara TUHAN tak peduli seburuk apapun kondisi keuangannya, maka TUHAN akan membuktikan apa yang Dia janjikan.

 

Sama halnya, kita dapat mengesampingkan segala perasaan takut kekurangan dan mulailah menabur untuk masa depan kita hari ini!

Pastor Kong Hee - CHC